Aku langsung masuk ke rumah dan menata kuntum mawar itu dalam sebuah vas. Lalu aku menuliskan pesan sesingkat mungkin... Untuk temanku. Aku menyeberang jalan ke rumah tetangga yang merupakan salah seorang sahabat karibku, dan meletakkan karangan bunga itu di depan pintu rumahnya.
Siangnya sahabatku itu menelepon untuk mengucapkan terima kasih. Katanya, karangan bunga itu benar-benar merupakan karunia. Larut malam sebelumnya ia bertengkar dengan salah seorang anaknya. Para remaja kadang-kadang bisa kejam, tidak memedulikan perasaan orang lain. Anaknya itu berkata kepadanya, :Ibu takkan punya teman.”

Jadi, tetanggaku itu benar-benar terkejut dan sekaligus merasa bahagia ketika ia hendak pergi bekerja pagi itu dan menemukan bukan saja karunia berupa bunga indah, tetapi yang paling utama adalah secarik kertas kecil dengan pesan sederhana yang berbunyi, Untuk temanku”.
Roberta Tremblay